“Hidup penuh dengan pilihan jalan-jalan yang Allah berikan bersabarlah untuk melihatnya”
Keluargaku
Aku dilahirkan dalam keluarga yang cukup sederhana dan tidak terlalu banyak bermimpi akan sesuatu yang besar di masa depan. Bapak adalah seorang pegawai swasta, sejak SD hingga SMU bapak bekerja di Jakarta, beliau hanya berada di rumah kami di Bandung pada minggu dini hari dan harus segera pulang senin dini hari, selama hampir 25 tahun, tanpa kenaikan gaji, dan berujung pada terbukanya fakta penipuan besar yang dilakukan atasannya kepada beliau selama masa tersebut. Belakangan saya tahu banyak sekali gaji bapak yang diambil olehnya, sungguh kekejaman yang hanya bisa saya doakan balasannya di akhirat.
Bapak mengundurkan diri dari perusahaan tersebut ketika Aku akan menghadapi ujian masuk universitas, tepat ketika jumlah besar uang sangat dibutuhkan untuk melanjutkan pendidikan, ini menimbulkan berbagai dampak tentu saja, apalagi perusahaan bapak tidak memberikan pesangon sedikitpun, di usianya yang telah lanjut keluarga kami harus memulai hidup baru.
Ibu yang selalu gigih dengan usahanya mengambil alih sementara urat perekonomian keluarga kami dengan usaha tokonya yang terus berkembang, suatu saat aku akan membalas kebaikan ibu dan bapak dengan hal-hal terindah yang bisa diberikan dunia, itu janjiku.
Menjadi seorang Dokter
Seperti halnya anak-anak kecil lain ketika ditanya ingin jadi apa setelah dewasa? Jawabannya adalah dokter atau pilot, Aku memilih pilihan menjadi dokter karena di kampungku belum pernah aku melihat seorang pilot, cuma alasan sesederhana itu. Namun demikian alasan sebenarnya kutemukan ketika aku berada di bangku kelas 3 SMU, aku dihadapkan pada mimpi sebuah mimpi tentang kematianku sendiri ketika aku tidur, belakangan ingatan akan mimpi tersebut terus menghantuiku, aku tidak bisa tidur selama beberapa bulan, hidupku benar-benar berubah, dikala dini hari aku terbangun aku memiliki banyak waktu sendiri, melihat hal-hal yang Allah tunjukkan padaku sepanjang hari, dan menentukan apa peranku dalam kehidupan.
Aku melihat mengingat kematian ternyata telah merubah hidupku yang sederhana menjadi penuh kesadaran hakiki akan arti hidupku. Aku memutuskan akan selalu ingat kematianku yang terus mengejarku tanpa henti, pekerjaan apa lagi yang lebih cocok? Dokter.
FKUI, awal semua mimpi
Mimpi adalah sebuah utopia tanpa cacat yang bisa kita bentuk sesuai keinginan kita, namun ketika dibawa ke dunia nyata, bersiaplah untuk kecewa. Tahun 2004 aku mengikuti ujian masuk perguruan tinggi dengan pilihan kedokteran Unpad dan Fisika UI, untunglah aku diterima di Fisika UI dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Aku menjalani proses pendidikan disana selama 1 tahun, namun impianku tidak pernah padam.
Dalam periode waktu yang sama bapak masih berusaha keras membangun usahanya yang baru, walaupun belum mendapatkan titik terang. Aku ingat saat itu aku harus berjalan dari rumah saudaraku tempat aku tinggal selama 1 tahun ke universitas selama 45 menit demi menghemat uangku, ketika hujan aku berteduh di rumah-rumah sekitar, ketika lapar aku hanya bisa menahannya karena jatah makanku tidak banyak. Suatu ketika salah satu orang yang paling berarti dalam hidupku, Mbah Man, orang yang dahulu sering mengasuhku sewaktu aku kecil, meninggal dunia, namun aku tidak memiliki cukup uang untuk menuju kota tempat dia tinggal, hatiku benar-benar hancur, penebusanku hanya satu aku akan memberikan kebaikan bagi keluarganya.
Di pengujung tahun biaya penghematan yang kudapat adalah 1.000.000 dalam tabunganku, kugunakan untuk mendaftar ke tempat bimbingan belajar persiapan SPMB. Aku hampir tidak bisa tidur selama 1 bulan terakhir menjelang SPMB, kugunakan semua waktuku untuk belajar. Ketika makan, duduk, di WC, dan lain-lain aku selalu membawa buku untuk kubaca.
Hari SPMB tahun 2005 aku memilih kedokteran UI dan kedokteran Unpad kulanjutkan bertaruh dalam mencapai mimpiku. Sebulan setelah SPMB aku berada di bandung, aku menunggu hasil SPMB dari sana, aku ingat tengah malam aku ke warnet sendiri, dan ketika kuisikan nomorku di komputer itu, rasanya hatiku hendak meledak, hanya 3 kata di komputer itu, ‘selamat, anda diterima’, aku yang hanya anak biasa diterima di sebuah perguruan tinggi dan fakultas terbaik di negaraku, mengalahkan ribuan atau bahkan jutaan sainganku yang lain dengan keadaanku saat itu, Allah, Allah, Allah terima kasih.
Ketika itu biaya masuk FKUI adalah 25 juta, namun pada kenyataannya seorang mahasiswa yang telah diterima boleh untuk tidak membayar sama sekali!!, Allah lagi-lagi membuka jalanNya untukku, namun budeku yang seorang pengajar di UI mengatakan lebih baik membayar, akhirnya dia membayarkan biaya tersebut, sementara uang semester yang harus kubayar hanya 1,5 juta saja, jauh lebih murah daripada sekolah kedokteran manapun, apalagi dengan melihat kualitas pendidikan yang kudapatkan di sini.
FKUI adalah kampus perjuangan, setiap hari adalah hal baru, aku bertemu dengan orang-orang terpintar yang bisa kuketahui, gairahku untuk belajar dan bekerja keras telah kutemukan kembali, nilai yang kudapat cukup baik, dan di kampus salemba itulah aku bertemu dengan orang yang kucintai saat ini, seorang perempuan cantik yang kuharapkan akan menjadi istriku kelak.
Menjelajahi Dunia
Dalam perjalanan kehidupanku di FKUI, bapakku nampaknya berusaha lebih banyak, usaha bapak berkembang cukup baik sehingga aku bisa mendapatkan uang saku yang cukup, tentu uang saku tersebut tidak kugunakan untuk hal-hal pemborosan, kutabung untuk keperluan apapun itu.
Aku memiliki kesempatan mengikuti sebuah organisasi mahasiwa kedokteran dunia, dan bagian yang kupilih adalah riset kedokteran. Aku bertemu dengan berbagai mahasiswa dari penjuru dunia di kampusku, melakukan tukar ilmu mengenai riset terbaru ilmu kedokteran. Salah satu mahasiswa asing yang kemudian menjadi temanku adalah Dr. Adam Stangierski, seorang Polandia. Di penghujung tahun 2008 aku berjanji padanya akan mengunjungi negaranya, aku akan mencari berbagai macam cara.
Ketertarikanku adalah bidang bedah saraf, karena menurutku inilah bidang yang sangat berkembang dan mengaplikasikan ilmu-ilmu paling mutakhir, selain tentu saja hanya orang-orang tertentu yang ‘cukup gila’ untuk memasuki dunia bedah saraf, istilah itu kukutip dari senior-seniorku yang sedang belajar ilmu bedah saraf, dan kurasa memang aku cukup gila. Aku mencoba melamar untuk mengikuti proyek penelitian bedah saraf di berbagai negara, jalan mulai terbuka ketika University of Vienna, Austria memberikanku jawaban. Aku cukup terkejut, bukan karena ada dokter-dokter dari luar negeri yang membalas proposalku, tapi karena yang memberi jawaban adalah professor dari salah satu universitas terbaik di dunia, bahkan dalam impian tergila yang kumilikipun aku tidak pernah membayangkannya.
Aku ingat saat iku aku masih berada di tingkat IV masa kuliahku, umurku baru saja menginjak 22 tahun, tapi aku harus berhadapan dengan orang sepintar professorku itu di negerinya, aku grogi luar biasa. Undangan kudapatkan pada bulan agustus 2009 dan akupun berangkat kesana. Jadwal penelitian dan diskusi yang begitu padat di Wina tidak membuatku surut untuk mengunjungi rekanku di Polandia, dan diantara liburan weekend tersebut aku melakukan perjalanan panjangku menuju Polandia melalui Republik Ceko.
Penelitian yang kujalani adalah merekonstruksi struktur mikroanatomi saraf dan pembuluh darah, ini akan digunakan untuk memahami perjalanan penyakit misalnya SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) atau melahirkan pendekatan operasi mikro pada bedah saraf. Jawal penelitian adalah pukul 09.00 hingga pukul 14.00, namun aku selalu datang pada pukul 07.30 dan pulang pada pukul 19.00 setiap hari, hingga profesorku memberikan padaku kunci lab dan mengatakan gunakan semua yang ada disini sesukamu, untunglah dia sangat mendukung semangatku.
Hasilnya cukup memuaskan, khususnya bagiku karena beberapa staf memintaku bekerja disana, ini adalah hal ‘gila’ lain yang ditunjukka Allah kepadaku, aku hanya seorang anak dari desa, ditawari untuk bekerja di tempat sebesar dan se-prestisius itu, tentu saja dengan menyesal tidak bisa kuterima, lulus dokter saja belum, lagipula aku ingin menunjukkan baktiku untuk negaraku, Indonesia. Aku kembali ke Indonesia dengan penuh kepuasan atas hasil yang kudapatkan di benua eropa.
Revolusi Islam Iran; Lompatan Teknologi Stem Cell
Sejak aku mengenal sejarah revolusi Islam tahun 1979 yang digerakkan oleh Ayatollah Khamaeni, mataku tidak bisa lepas dari perkembangan negara tersebut, aku selalu mencari berita mengenai Iran setiap hari. Iran telah berkembang sedemikian pesat dalam kurun 31 tahun, dalam kurun waktu ini mereka telah secara mandiri mengirimkan satelit keluar angkasa, memproduksi mobil dan pesawat sendiri, serta menjadi raksasa ekonomi dengan PDB penduduknya mencapai 11.000 dollar padahal Indonesia yang telah merdeka 60 tahunan PDBnya bahkan belum mencapai 3000 dollar, dan yang lebih mencengangkan Iran mencapai semua itu dalam embargo total dunia, karena dituduh teroris, dan sebagainya oleh amerika, padahal faktanya pemimpin amerika memang kurang bijak dalam bertindak. Bagiku hanya ada satu hal yang membuat negara ini meloncat begitu jauh, yaitu keteguhan mereka memegang hukum Allah.
Satu hal yang menarik perhatianku adalah betapa giatnya mereka mengembangkan stem cell. Yang kumaksud mereka adalah dokter, mahasiswa, pemerintah, dan para ulama, mereka bekerja bersama dalam sinergi yang sangat baik dan kuat, bahkan imam khamaeni selalu memimpin shalat jumat di University of Tehran, ini menunjukkan penghormatan yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan. Stem cellatau sel Punca yang dikembangkan peneliti Iran telah digunakan untuk mengobati leukemia, thallasaemia, dan berbagai kondisi penyakit genetic lain. Di Indonesia jika seorang dokter berhdapan dengan penyakit-penyakit ini biasanya hanya akan memberikan motivasi kepada pasien untuk menjalani sisa kehidupan dengan baik, aku tidak puas. Sel punca menawarkan sebuahjalur baru pengobatan karena sel ini dapat menjadi sel apapun yang baru dan sehat dengan teknologi tertentu.
Beberapa dokter di Indonesia telah memulai penggunaan sel punca untuk terapi khsusnya pada dokter ahli penyakit dalam pengajar-pengajarku di FKUI, namun masih dalam skala yang sempit karena terbatasnya fasilitas dan mahalnya terapi ini. Aku memiliki mimpi untuk membawa teknologi ini dari Iran ke Indonesia, mendirikan pusat terapi sel punca di Indonesia khususnya untuk pasien bedah saraf dengan penyakit-penyakit terminal, membawa harapan baru bagi kehidupan pasien-pasienku, menjadikan teknologi ini murah dan bisa dinikmati oleh semua orang di Indonesia.
Dalam waktu 1-2 tahun aku akan bersiap menghadapi ujian masuk program pendidikan dokter spesialis, tujuanku bedah saraf, aku ingin menjadi salah satu ahli bedah saraf yang terbaik di negaraku, di asia tenggara, bahkan di dunia. Setelah itu aku akan mencoba melanjutkan studi doktoral stem cell ke Iran. aku ingin memberikan banyak hal untuk dunia, karena kematian yang terus mengejarku, mengingatkanku untuk selalu bersabar, berserah diri, berjuang keras di sisa masa hidupku.
Satu hal yang menarik tentang kehidupan adalah Allah menunjukkan jalan kepada semua hambaNya, hambaNyalah yang bertugas melihat itu dengan mata hatinya karena jalan itulah yang akan membimbing mereka kembali ke tempat terbaik mereka di sisiNya. Bersabar dan bersyukur adalah sebuah kewajiban jika seorang manusia ingin melihat jalan yang ditunjukkan Allah kepadanya.
“Allah akan menguji manusia dengan kekurangan, keraguan, dan ketakutan, namun Allah akan semakin menyayangi hambaNya yang tidak pernah putus asa mendapatkan cintaNya (Imam Khamaeni)”
Exomed Indonesia; Menyamakan diri dengan Amerika
Tahun 1955 ketika internet ditemukan oleh departemen pertahanan Amerika, para dokter di amerika langsung berinisiatif membangun sebuah web yang dimakan eMedicine dan saat ini telah berubah nama menjadi Medscape, ini adalah situs kedokteran terbesar di dunia saat ini dengan lebih dari 100.000 dokter terlibat di dalamnya.
Tidak ingin kalah dengan upaya para dokter-dokter di amerika aku dan teman-teman bekerja keras membangun sebuah web kedokteran yang kunamai Exomed yang berarti Extraordinary Measure Medicine. Web ini telah memiliki 100 kontributor dokter dan dalam waktu kurang dari 1 bulan sudah dibaca ribuan orang, membuatku yakin akan perkembangan web ini di masa depan untuk menyaingi medscape amerika. Aku dan teman-temanku bekerja keras untuk membangun impian kami.
“Berjalanlah Kalian sendiri-sendiri atau bersama-sama di Jalan Allah seperti tembok yang kokoh, karena Allah akan memberikan kalian kemenangan.” (Al-Qur’an)
Bandung, 12 November 2020
Teruntuk Trisa Melati,
Aku menulis surat ini 10 tahun setelah kau membacanya. Kukirimkan padamu karena aku ingin kamu tahu keadaanku sekarang: jangan khawatir. Aku tahu kamu tak pernah berharap akan dikirim kabar dari masa depan, tapi aku juga tahu bahwa kamu membutuhkannya: kamu sedang tertekan sekali sekarang. Mungkin kamu bingung juga: kenapa aku menulisnya dari Bandung, padahal kamu berharap tahun 2030 kamu sedang berada di belahan lain dunia. Oke, aku jelaskan satu per satu.
Dunia tidak berubah, Tris. Belum. Mungkin sudah, sedikit demi sedikit, hanya saja aku tak menyadarinya, mungkin, karena tahun begitu saja berlalu. Pemanasan global tidak mengubah dunia seekstrim itu, senja masih perpaduan antara lembayung, jingga, dan unggu. Dan lautan masih (anehnya) bersih. Indonesia masih negara kepulauan terbesar di dunia. Mereka bilang kiamat tahun 2012, itu bohong. Mobil pun masih berjalan dengan roda di atas rel. Belum ada anti gravitasi yang bisa membuat mobil-mobil melayang. Hanya, yah, memang makin ke sini fiturnya diperbanyak. Sekarang hamper semua mobil menggunakan navigasi lewat sentuhan. Agak ribet, memang, tapi kamu juga bisa senang: sekarang di Indonesia lebih banyak orang yang naik sepeda daripada mobil. Yap, seperti di negara tempatmu berada ketika kau membaca surat ini. Rumah-rumah juga masih seperti itu, hanya sedikit lebih bagus, dan sedikit lebih besar: tak disangka, orang-orang makin terbuka menerima orang lain di rumah mereka, memberi kehangatan dan menjalin perkawanan
Dunia tidak berubah, tapi tak demikian halnya dengan kamu. Kamu berubah. Berkembang, pesat sekali. Kalau kamu melihat dirimu yang 10 tahun setelah kamu membaca surat ini, kamu tak akan menyangka bahwa ini adalah orang yang sama dengan yang terpuruk menangis di sudut kamarnya yang kecil di Oegstgeest, orang yang tidak berani melihat facebook profile teman-temannya karena perasaan minder, orang yang merasa dirinya bukan apa-apa dan tak akan pernah jadi apa-apa.
Haha, aku ingat keadaanmu: kamu merasa sesak karena terpikir terus tugasmu yang tak kunjung selesai, betapa otakmu sudah jenuh, berulang kali menyesali keputusanmu sekolah di negeri orang, apalagi karena keadaannya jauh meleset dari yang kau perkirakan. Kamu terus-terusan tertekan oleh perasaan ingin membuktikan diri bahwa kamu sukses, karena kalau tidak, apa yang akan kamu katakan pada orang lain? Buang-buang duit orang tua saja, itu yang kamu takutkan. Kamu takut bertemu teman-temanmu tanpa membawa prestasi yang membanggakan. Kamu selalu merasa takut: takut tak lulus kuliah, takut tidak punya pekerjaan memadai setelah lulus, takut “kalah” dengan teman-teman seangkatanmu. Maaf aku tertawa di awal kalimatku tadi. Kamu pasti kesal, karena keadaan itu begitu nyata buatmu. Tak apa-apa. Nanti juga kamu tahu dan kamu pun akan tersenyum.
Aku juga ingat seberapa tertekannya perasaanmu—tertekan, tapi di satu sisi bangga—ketika melihat sahabat-sahabatmu satu persatu menikah, menjemput kebahagiaan dan tenang terjaga oleh suami mereka, bahkan kehidupan mereka pun sudah sangat mapan. Selalu terbayang olehmu: kapan giliranku? Ditambah lagi desakan dari orang tua supaya kamu bisa menikah secepatnya, dengan orang yang berada, berpendidikan, berprestasi, ganteng, lulusan luar negeri—intinya yang bisa dibangga-banggakan oleh orang tuamu ke teman-teman mereka. Ini membuat kamu bertanya—bukankah cukup aku saja untuk bisa mereka banggakan? Aku tak perlu suami hebat hanya untuk membuktikan bahwa diriku pun wanita yang hebat!
Kamu benar, Sayang, dengan atau tanpa lelaki super di sampingmu, kamu kelihatan bersinar melebihi yang bisa dibayangkan seseorang.
Dan ingat mantan-mantan yang pernah kau tangisi itu? Sekarang kau bisa tertawa berderai: mereka tidak sehebat yang kamu bayangkan ternyata. Mereka memang hebat, tapi pencapaianmu jauh lebih hebat dari mereka (Dan hanya antara kita ya, meskipun semua orang pun bisa melihatnya: kamu jauuuuhhh lebih berharga daripada yang mereka dapatkan! Dalam segala hal). Ketika keriput mulai menggali wajah mereka, senyum yang selalu kau tebar melatih otot wajahmu sehingga tetap kencang. Ketika lemak mereka mulai menumpuk di perut, kecintaanmu dalam menari menjaga postur dan gesturmu (untunglah kamu memutuskan untuk ikut kelas menari sewaktu bersekolah di Leiden). Ketika mereka datang ke acara pernikahanmu, mereka cuma bisa terpukau pada apa yang mereka saksikan. Memang pesta pernikahanmu tidak semegah yang mereka punya, tapi jelas itu adalah pesta terunik terhebat yang pernah terjadi dalam kehidupan seseorang, dan berterima kasih lah pada teman-temanmu yang menjadikannya mungkin. (percayalah: mereka masih dan selalu ada untuk kamu, bahkan 100 tahun dari sekarang—aku sudah dapat surat dari tahun 2110, dan katanya teman-temanmu masih menjagamu)
Dan aku bersaksi: Tuhan tak pernah ingkar janji. Ketika kamu berdoa untuk diberikan yang terbaik, Dia memang memberikan yang terbaik untukmu! Lelaki yang paling pantas dengan keadaanmu, pria sejati yang bisa menyokongmu, mengagumimu hingga belakang telingamu, hingga setiap pori kulitmu. Lelaki beruntung yang memilikimu untuk menemani sepanjang hidupnya, yang membaktikan seluruh hidupnya untuk rumah tangga kalian. Dan seluruh dunia pun mengamini: dia lelaki yang sempurna untukmu.
Eits, aku tak bisa membocorkannya padamu sekarang, karena kamu harus mengalaminya juga: perasaan berdebar-debar, tak menentu karena penasaran: apakah benar yang ini jodohmu?
Trisa Sayang,
Bertahanlah, sedikit lagi.
Nikmati saja setiap momen yang kamu lalui karena itu yang bisa kamu jaga sepanjang hidup. Semester ini akan segera berakhir. Studi mastermu di Belanda akan segera berakhir, membuahkan sebuah perspektif baru bagimnu dalam memandang kriya Indonesia, juga jalinan persahabatan yang luar biasa dari teman-temanmu, baik yang dari Belgia, Jepang, Perancis, maupun dari berbagai daerah di Indonesia. Secepatnya kamu akan dipeluk lagi. Secepatnya orang akan angkat topi atas pencapaianmu. Sedikit lagi.
Aku bisa melihatnya sekarang, karena aku berjarak 10 tahun dari saat kamu membaca surat ini untuk pertama kali. Aku bisa menyaksikan dirimu di panggung dunia sebagai orang yang paling dicari jika menyangkut ornamen di Indonesia. Iya, ini tema paper yang bikin kamu menangis berbulan-bulan di Oranjelaan, tapi kini bikin kamu tenar. Makanya kamu menerima surat ini dari Bandung, bukan dari Belanda, Barcelona, Birmingham, atau Benares. Kamu sudah keliling berbagai institusi dunia untuk memberikan kuliah dan kamu berada di Bandung, tempatmu terlahir dan akan selalu kembali, untuk berselonjor kaki dan bersantai.
Karena itu, jalani saja.
Nikmati hidupmu!
Dengan penuh cinta,
Trisa Melati di tahun 2020
*****
Kamar di Oegstgeest, 12 November 2010, 11:02 pm waktu setempat, dibuat terburu-buru untuk “Love Letter To Yourself”, sebuah inisiatif dari “Being 20something is hard”, oleh Trisa Melati yang sedang berusia 22 tahun, 11 bulan, dan 13 hari.
(lengkapnya tentang inisiatif ini, kunjungi http://www.facebook.com/being20something )
#lovelettertourself participant no.18 Trisa Melati
My Office, 13 November 2010 jam 02.10 pagi
Oi….Apa Kabar
Ah.. nggak usah dijawab juga gua sudah bisa tahu tentang kebiasaan keseharian lu yang hampir setiap harinnya serba..serba..(30X) tidak teratur terencana atau bahasa kerennya termanage dengan baik. Mulai dari kebiasaan tidur, makan, mandi bahkan boker pun ikut-ikutan tidak teratur. Ingat kawan umur lu tuh sudah 1/4 abad lebih 2 tahun 2 bulan, ayo mulailah membiasakan hidup teratur dan ingat apa yang dikatakan oleh bapak manajemen modern Peter F. Drucker “Management by objective works - if you know the objectives. Ninety percent of the time you don’t. And Follow effective action with quiet reflection. From the quiet reflection will come even more effective action.”. Sebaiknya mulailah dari sekarang kawan.
#lovelettertourself participant no.17 Agus Iklan P.